Senin, 10 Februari 2014

UPI KAMPUS TASIKMALAYA GELAR LAUNCHING ANTOLOGI CERPEN






Februari (09/14) UPI Kampus Tasikmalaya menggelar acara launching antologi cerpen, penyusunan buku antologi ini di prakarsai oleh anak-anak tinta dari UKM Aksara. Buku antologi cerpen yang berjudul ‘’Pelangi Selepas Gerimis’’ ini akhirnya terbit juga setelah lama melewati beberapa proses. Mulai dari proses editing hingga penerbitan.
Bertempat di Aula UPI Kampus Tasikmalaya acara launching buku antologi cerpen ini sukses di gelar. Para peserta yang menghadiri tidak hanya para mahasiswa dan jajaran dosen UPI Kampus Tasikmalaya saja, namun di hadiri oleh tokoh-tokoh sastra, beberapa institut lain bahkan hingga luar daerah. Hadirnya para tamu dan peserta dari berbagai lapisan menyambut hangat peluncuran antologi cerpen pelangi selepas gerimis.
Pengisi acara yang menjadi apresiator adalah Irvan Mulyadie. Seorang penulis yang karyanya tidak di ragukan lagi. Irvan Mulyadie telah menuliskan beberapa buku antologi dan cerpen, puisi, dan artikelnya di muat di beberapa surat kabar dan majalah, baik lokal maupun nasional. Beliau juga aktif di beberapa organisasi dan komunitas terkait kesusastraan dan kesenian. Selain itu di meriahkan pula oleh musikalisasi puisi dari UKM Aksara, puisi yang di musikalisasi salah satunya adalah ‘’Aku ingin mencintaimu dengan sederhana’’ karya Sapardji Djoko Darmono.
‘’Menulis adalah salah satu kegiatan berbahasa manusia, Sebagai bukti manusia tidak lagi berada di zaman pra sejarah yang notabene belum memahami tulisan. Pun Sastra adalah tulisan indah yang indah,dengan sastra rasa manusia terasah semakin peka. Maka menulis sastra adalah aktivitas yang bisa menumbuhkan kepekaan manusia sebagai makhluk social,’’ begitu ungkap Via Fitriani selaku Ketua Pelaksana dari acara launching buku antologi pelangi selepas gerimis.
Dalam acara launching antologi pelangi selepas gerimis pun di bahas mengenai kepenulisan. Tentang bagaimana cara mengakhiri sebuah cerita, penokohan, sampai penulisan dan pengemasan cerita yang unik dan menarik tetapi sesuai dengan kaidahnya.
Harapan untuk kedepannya, mahasiswa sebagai agen of change dapat mencetak lebih banyak lagi karya dengan kualitas yang tidak kalah dengan para penulis profesional maupun mega best seller.
(Annisa Anita Dewi)

sumber: http://annisaanita.blogspot.com/

Senin, 30 Desember 2013

Aku dan Hujan Tadi Malam

Ada sesuatu yang terasa aneh saat itu, entah apa. Tapi yang jelas, itu membuat hujan tadi malam semakin deras. Membasahi setiap insan yang tidak bernaung di bawah apapun. Menutupi kesedihannya, dan membuat mereka bersalah dalam kebahagiaannya.
Hujan tadi malam membasahi raga ini. Raga yang mulai lelah dengan segala aktifitasnya. Raga yang mulai bosan dengan semua kepura-puraannya dibalik tabir kenistaan yang fana.
Aku dan hujan tadi malam sangat dekat dan akrab bercengkrama. Bahkan, lebih akrab dari kucing yang saling suka dan lebih dekat dari batu dan tanah yang basah.
Aku dan hujan tadi malam mulai berbagi cerita, seperti seorang anak kecil yang merengek pada Ibunya. Memintanya untuk menjadi cahaya yang membuat tubuhnya terasa hangat dalam hujan tadi malam.
Aku dan hujan tadi malam menangis bersama, mengingat kesedihan yang menyapa hati ini. Sepertinya hujan mengerti dan sangat paham. Dia menurunkan tetesan demi tetesan airnya untuk menemani air mata yang kesepian di tengah jalan.
Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, tapi entah dari mana aku harus memulainya.
Menapaki setiap jejak yang telah terukir bersama pena. Menyusuri setiap alur kehidupan yang tidak lagi aku harapkan.
Sepertinya diri ini mulai bosan!
Maaf hujan, aku tidak bermaksud membuatmu sedih malam ini. Hanya saja, hati ini sedang merindukanmu.
Merindukan Pemilik dan Penciptamu,, lebih dari kerinduan seorang kekasih pada pujaan hatinya.
Saat hati ini terasa gundah, Dialah yang membuatnya tak mampu untuk mengalah oleh masalah..
saat hati ini merasakan benci yang sangat dalam, Dialah yang membuat ikhlas tertanam..
saat hati ini merasa sendiri, Dialah yang selalu hadir menemani..
dan saat hati ini tak mampu lagi memaafkan, Dialah yang akan membuatku memaafkan walau terkadang harus dipaksakan.
Aku lebih beruntung dari mereka yang setiap hari menjadi sahabatmu, hujan. Menjadi teman setiamu dalam segala aktifitasnya. Bahkan menjadi seperti sungai yang akan selalu menghampiri muaranya, walaupun dia tak mau.
Maaf langit, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu karena hujan yang menemani kesedihanku malam ini. Hanya saja saat itu kau sedang tertidur bersama gelapnya malam tanpa rembulan.
Melalui perantaramu, hujan turun bertanda kasih sayangNya pada seluruh makhlukNya. Bukan hanya untukku yang sedang bersedih malam ini, tapi untuk segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.
Terima kasih Pemilik Langit dan Hujan,, atas langit yang telah Kau ciptakan dengan 'arsitektur' yang luar biasa, dan hujan yang Kau turunkan malam ini bersama limpahan kasih sayangMu pada tumbuhan yang kekeringan, hewan yang kehausan, manusia dalam kesedihan, dan pada segala sesuatu yang telah Kau ciptakan.
Semoga hati ini tetap di jalan cintaMu.. Amin

Buah karya Fida Amatillah

Mentari di Ufuk Eropa

Oleh: Hujan November
“Tuhan izinkan aku menikmati mentari pagi di Negri Eropa.
Dan menikmati langit-langit cerah bersama jutaan burung yang melintas disana, bukan lagi burung kertas yang ku gantungkan di langit-langit kamarku, melainkan sebuah suguhan  nyata yang Tuhan ciptakan nyawa di dalamnya”.
            Tuhan, kata orang langit Eropa begitu indah, benarkah itu? Jika boleh, aku ingin melihat keindahan itu, sekali saja! Aku tak pernah tau kapan Kau mengakhiri malamku, dan sebelum Kau tentukan hari itu, izinkanlah Tuhan, izinkanlah ..
Aku tak pernah tahu seperti apa mereka mengenangku nanti, seperti apa yah Tuhan? Apakah aku akan di kenang sebagai orang yang baik? Atau ..
Aku hanya akan di kenang sebagai gadis bodoh si tukang tidur yang selalu bermimpi menikmati mentari di negri yang jauh itu.
Tuhan, mungkin aku hanyalah Tuhan untuk setiap dongeng yang ku buat di atas lembaran ceritaku, aku hanyalah Tuhan untuk setiap burung kertas itu, yang tampak bernyawa ketika aku memainkanya dengan jari-jari yang lemah ini yang seolah terbang meski hanya di dunia sepiku. Namun Kau adalah Tuhan ku dan se- isi Mesta ini. Dengan kekuatan lemahku aku hanya mampu menciptakan kertas itu “seolah” bernyawa, namun Kau dengan Kekuatan Maha Dahsyatmu kau izinkan Nabi Yunus bertahan di perut ikan yang bau busuk. Dengan izinmu pula, kau mampu membuat Nabi Musa membelah laut merah dengan tongkatnya sendiri. Dan aku memohon izinmu Tuhan diantara sisa pagi yang ku punya, izinkan aku menikmati mentari hangat di negri itu, negri yang ada dalam dongengku. Meski akhirnya sebelum aku sampai ke sana, aku sudah kehabisan malam untuk menikmati pagi.

Meskipun begitu, setidaknya ketika petang telah tiba dan aku telah berpisah dengan jasadku, akhirnya aku menghempaskan semuanya. Tuhan yang Maha Baik telah mencabut semua rasa sakitku di suatu petang menjelang malam, hingga akhirnya ku lihat mentari pagi yang selalu ku bayangkan bersama dengan ribuan burung yang melintasi langit Eropa, di saat itulaah rohku harus kembali menuju sang pemilik semuanya.

Pemimpin yang Dirindukan 2

Wahai pemimpin yang dirindukan, kini Allah memberi kesempatan padamu untuk tegak dalam amanah.
Bukan tanpa perjuangan, karena terpilih bukan berarti kita berlena dengan berbagai tugas.
Ah, hanya pengingat saja, karena: Bukankah kita terlalu sering berdiskusi "jika menjadi seorang pemimpin itu ibarat menjadi nakhoda sebuah kapal", bukan laut tenang yang akan diarungi melainkan samudera lepas nan ganas, yang kita tak penah tahu akan bagaimana semua terjalani.
Wahai pemimpin kami yang dirindukan, kami percaya padamu, jadi berhentilah bersikap mengecewakan. Kami tidak meninggalkanmu.
Jika kini kau telah terpilih, dan menjadi pusat segala pusat maka berhati-hatilah.
Matahari pun menjaga kecepatan dan tetap dalam lintasannya, untuk keseimbangan alam dunia, siang dan malam.
Maka, kau pun begitu wahai pemimpin yang dirindukan, seHARUSnya kau tetap dalam lintasan. Karena orang mencari, orang melihat, orang mendengar semua tenatngmu, karena kau orang yang amat penting dan penentu kapal akan dibawa kemana.
Jika seorang nakhoda kapal "mabuk", akankah penumpangnya tenang?
Tidak.
Mereka tidak tenang, dan mungkin saja mreka akan membuangmu ke samudera lepas dengan penuh caci maki.
Jadi, pantaskan dirimu wahai pemimpin yang dirindukan. Kehidupan pribadimu pun akan menjadi eksploitasi, dan itu memang pantas dan wajar "rakyat menginginkan pemimpin ideal yang patuh pada aturan dan tatanan, baik tatanan sosial, agama, hukum negara, dan bahkan MORAL."
Wahai pemimpin yang dirindukan, jika dirimu masih saja berkutat dengan perasaan-perasaan sendiri yang mengacaukan, berhentila berrteriak "berikan kepercayaanmu padaku!", karena ombak akan menelannya, dan ikan teri pun tak akan mau mempercayaimu.
Wahai pemimin yang dirindukan, jangan tutup mata, jangan tutup telinga, jangan matikan hatimu dari selentingan-selentingan, karena ia bak obat yang pahit tapi menyembuhkan. Marilah bersama menjadi pembelajar.
"Karena kami masih akan percaya padamu, berhati-hatilah berkata, berbuat, dan bertekad, krena "sosok"mu menjadi citra bangsa"
wahai pemimpin yang dirindukan, berusahalah untuk keras pada diri sendiri. Tenanglah, karena cinta akan datang tepat pada waktunya, ia tak akan pergi jika sejati.
Bersabarlah, karena cinta yang hakiki adalah perjuangan, jangan sampai kamu merindui cinta, biar cinta yang merinduimu.

Cerita Aksara (Shesha Akina-Santi Maulani) Untuk adikku yang kelak akan menorehkan cinta dan sejarahnya di Aksara UPI Tasikmalaya

Carita akan memberikan kesan berbeda jika hanya diceritakan, tapi akan bermakna jika dirasakan. Cerita hanya sepenggal kisah lalu dengan sejuta kata yang tak akan ada habisnya untuk dituliskan dalam selembarkertas putih.
Masa yang telah lalu adalah kenangan yang tak akan pernah sama, walau di tempat, hari dan detik bahkan dengan seseorang yang sama. “Kenapa berbeda? Bukankah semuanya sama?” karena saat itu tak ada yang dibuat-buat, sangat alami dengan suasana yang sangat kita nikmati.
Senyum tulus yang terpancar saat pagi menjelang. Walau dengan kegelisan yang menerjang, karena harus membagi waktu dengan berbagai kegiatan tak mengalahkan niat untuk seseorang yang telah menunggu. Atau bukan seseorang, karena mereka adalah kertas dan pena yang telah siap memberikan sejuta kata yang akan mereka rangkai untuk mengisi berbagai majalah, surat kabar, buku-buku yang akan mereka terbitkan bahkan hanya sekedar mengisi blog-blog mereka sendiri.
Senyum itu semakin siang telah berkembang menjadi tawa lepas dengan kekonyolan sederhana yang tak direncanakan, dan terganti dengan rasa percaya diri tinggi untuk membacakan puisi sepanjang jalan.
Ketika itu mereka seolah tak peduli dengan tatapan aneh, bahkan sinis dari orang-orang disekeliling yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Ah untuk sebuah tanda tangan, mereka rela melepas rasa malu. Mencari apresiator yang mau mendengarkan satu bait puisi. Bahkan rela dicaci karena apresiator yang tak mau peduli. Terlihat kekecewaan diwajahnya, tapi hal kecil itu tak menunrunkan semangat mereka. Mereka dengan bangga memperlihatkan beberapa tanda tangan dibalik kertas berwarna merah muda. Menunjukan usaha keras hanya  untuk satu tanda tangan. 
Kaki yang lelah melewati setapak demi setapak jalan besar, kian tak terasa. Langit putih menunjukkan bahwa ia menjadi atap di pos terakhir. Udara sejuk di persawahan memberikan kesegaran dalam setiap tarikan nafas, mata yang seolah dipaksa terpejam, pikiran yang dibuat melayang agar bisa menikmati keindahan Tuhan, karena terlupakan oleh berbagai aktivitas.
Hingga kita juga lupa dengan sosok yang telah lama menunggu di tempat yang sering disebut rumah. Ketika mengingatnya tak akan ada alasan untuk tak membuat pipi ini basah, rasa rindu yang membelenggu, memaksa tetes air semakin deras dalam setiap kalimat yang memberikan kesan mendalam. Untaian kata yang tak henti-hentinya disampaikan bersama dengan gemercik air sungai menghilangkan beban yang pecah dengan satu teriakkan.

Jika ditanya alasan kenapa mereka menangis, tak akanada satu jawaban pun untuk menggambarkannya. “Kalau udah diingatkan sama orang tua, gak bisa tahan buat nangis.” Kata salah seorang berbaju pink yang memegang kedua pipi cubynya.
Sambil terus berpegang tangan ia tak hentinya menceritakan wanita terhebat yang telah melahirkannya hingga ia akan membanggakan Ibunya dengan tulisan-tulisan yang mengalir dengan cepat dari tangan mungilnya.
Perjalanan panjang tak terasa melelahkan, kerongkongan yang terasa kering, rasa lapar yang semakin mendera, seolah terbayar dengan kegembiraan yang tak ada habisnya hingga matahari seolah tepat berada di atas kepala.
Dengan langkah malu-malu untuk mengambil tas, terlihat nasi putih dengan lauk-pauk yang telah disedikan. Bukan disajikan dengan piring dan gelas mewah, tapi daun pisang yang hanya sebagai alas. Ada keraguan untuk memakannya, karena setiap orang bebas mengambil nasi. Suapan pertama, agaknya tampak ragu. Suapan kedua terlihat keterpaksaan karena perut yang mendemo meminta jatah makan. Suapan-suapan berikutnya keraguan itu hilang, keterpaksaan itu pudar oleh semua kesederhanaan yang jauh lebih menyenangkan dari sekedar piring dan gelas mewah. Bukan juga karena tempat dimana kita makan-makanan itu tapi karena kebersamaan yang tak akan tergantikan.






“Habis ini ngapain lagi ya kak?” pertanyaan yang setidaknya memberikan dua arti dari jawaban yang disampaikan. Pertama karena mereka sudah lelah mengikuti serangkaian kegiatan dari pagi atau karena rasa penasaran dengan kegiatan yang membuat mereka deg-degan. Entahlah mereka mempunyai alasan sendiri-sendiri.
SUDAH TERLANJUR
Dara Zhafirah
(Pelangi Senja)

Sudah terlanjur
Bila engkau cegah aku jatuh hati
Padahal embun telah lama terkikis sang fajar
Yang terabaikan waktu
Aku terlalu sibuk mempertanyakan kehadiranmu

Sudah terlanjur
S   Senyum sederhanamu telah lama buatku takluk!
Rasa kasmaran telah mengalahkanku,
Dan aku tak berdaya dibuatnya.
Beberapa menit penasaran berganti menjadi ketidaksabaran untuk menceritakan alasan-alasan kenapa mereka membuat karya dengan berbagai judul yang beragam. Kata demi kata terangkai indah menjadi bait puisi.














Pemilihan kata sederhana tetapi menyimpan berjuta makna, pasti akan membuat siapa saja yang membacanya larut dalam kenangan yang memberikan kesan tersendiri.
Bukan hanya aluanan kata yang terangkai indah menjadi bait-bait puisi, tapi juga kalimat yangsengaja dibuat untuk menggambarkan imajinasi yang dimiliki. Unutk menjelaskan rasa yang sedang mereka alami.
























Sebuah rasa yang akhirnya memberikan mereka impian untuk mulai menulisakannya dalam kertas yang merangkai sejuta kata tiada henti.
Ide bermunculan dan terus berkembang tapi tangan yang mempunyai batas kemampuan untuk menyeimbangkan pikiran dan gerakan, adalah hal kecil untuk memberikan mereka kesempatan melepas rasa lelah.
Rasa lelah akan hilang jika kita melihat atau mendengar hal-hal yang kita anggap menyenangkan. Tapi bagaimana jika mata untuk melihat hal menyengakan itu, ditutup?  Dan hanya terdengar suara-suara aneh? Bukan kelelahan itu yang hilang tapi kebingungan melanda. Suatu ketika seolah tak ada gerakan, hening. Tapi tak lama terdengar jeritan, terdengar seseorang yang membacakan puisi tentang ayah dan ibu. “Apa sebenarnya yang terjadi disekelilingku?” mungkin hal itu berada dalam benak mereka. kemudian pukulan kaleng yang semaikn mendekat, terdengar begitu jelas ditelinga. Sempat tersungging senyum itu dari bibirnya, ketika terdengar music dangdut. Tak ada perintah, tapi tangan, kaki dan badan bergerak, bergoyang mengikuti irama music.
Walau dengan mata tertutup, tapi tangan itu terus berpegangan, berdansa mengikuti alunan music yang berganti. Menghilangkan rasa lelah yang semakin menjadi, dengan gerakan-gerakan yang mengalir tanpa disadari. Music tiba-tiba berhenti, genggaman tangan itu dilepaskan. Ada tangan lain yang menuntun mereka satu persatu. Dengan mata yang masih ditutup, mereka dipaksa membuka mulut. Keraguan tampak jelas dari cara mereka menolak makanan dan minuman yang diberikan. Tapi akhirnya mereka malah meminta lagi dan lagi makanan dan minuman itu.
tak lama tutup mata itu dibuka, dengan mata yang masih remang-remang mereka memasuki ruang kecil yang ditutup dengan kain hitam. Di sana telah menunggu seseorang yang akan menjadi saksi nama pena yang akan mereka gunakan.
satu persatu mereka menuliskan nama pena dalam satu lembar kertas putih. Nama yang akan menjadi kebanggaan, nama yang akan membesarkan mereka dalam dunia penulisan.
Langit sore telah dipenuhi awan hitam, matahari tak lagi menunjukkan cahayanya. Adzan maghrib telah berkumandang tapi acaramasih belum berakhir.
Hanya ada satu cahaya yang menerangi gelapnya salah satu sudut itu, api kecil yang dikelilingi oleh berbagai jenis pena dan kertas. Api yang akan menjadi saksi bisu bergabungnya pena-pena itu dalam satu keluarga Aksara. Serta janji suci yang mereka ucapkan, yang akan mereka pegang teguh sebagi bukti kecintaan pada Aksara.

19 Desember 2013

11:27 PM