Senin, 30 Desember 2013

Pemimpin yang Dirindukan 2

Wahai pemimpin yang dirindukan, kini Allah memberi kesempatan padamu untuk tegak dalam amanah.
Bukan tanpa perjuangan, karena terpilih bukan berarti kita berlena dengan berbagai tugas.
Ah, hanya pengingat saja, karena: Bukankah kita terlalu sering berdiskusi "jika menjadi seorang pemimpin itu ibarat menjadi nakhoda sebuah kapal", bukan laut tenang yang akan diarungi melainkan samudera lepas nan ganas, yang kita tak penah tahu akan bagaimana semua terjalani.
Wahai pemimpin kami yang dirindukan, kami percaya padamu, jadi berhentilah bersikap mengecewakan. Kami tidak meninggalkanmu.
Jika kini kau telah terpilih, dan menjadi pusat segala pusat maka berhati-hatilah.
Matahari pun menjaga kecepatan dan tetap dalam lintasannya, untuk keseimbangan alam dunia, siang dan malam.
Maka, kau pun begitu wahai pemimpin yang dirindukan, seHARUSnya kau tetap dalam lintasan. Karena orang mencari, orang melihat, orang mendengar semua tenatngmu, karena kau orang yang amat penting dan penentu kapal akan dibawa kemana.
Jika seorang nakhoda kapal "mabuk", akankah penumpangnya tenang?
Tidak.
Mereka tidak tenang, dan mungkin saja mreka akan membuangmu ke samudera lepas dengan penuh caci maki.
Jadi, pantaskan dirimu wahai pemimpin yang dirindukan. Kehidupan pribadimu pun akan menjadi eksploitasi, dan itu memang pantas dan wajar "rakyat menginginkan pemimpin ideal yang patuh pada aturan dan tatanan, baik tatanan sosial, agama, hukum negara, dan bahkan MORAL."
Wahai pemimpin yang dirindukan, jika dirimu masih saja berkutat dengan perasaan-perasaan sendiri yang mengacaukan, berhentila berrteriak "berikan kepercayaanmu padaku!", karena ombak akan menelannya, dan ikan teri pun tak akan mau mempercayaimu.
Wahai pemimin yang dirindukan, jangan tutup mata, jangan tutup telinga, jangan matikan hatimu dari selentingan-selentingan, karena ia bak obat yang pahit tapi menyembuhkan. Marilah bersama menjadi pembelajar.
"Karena kami masih akan percaya padamu, berhati-hatilah berkata, berbuat, dan bertekad, krena "sosok"mu menjadi citra bangsa"
wahai pemimpin yang dirindukan, berusahalah untuk keras pada diri sendiri. Tenanglah, karena cinta akan datang tepat pada waktunya, ia tak akan pergi jika sejati.
Bersabarlah, karena cinta yang hakiki adalah perjuangan, jangan sampai kamu merindui cinta, biar cinta yang merinduimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar