Wahai pemimpin yang dirindukan, kini Allah memberi
kesempatan padamu untuk tegak dalam amanah.
Bukan tanpa perjuangan, karena terpilih bukan berarti kita
berlena dengan berbagai tugas.
Ah, hanya pengingat saja, karena: Bukankah kita terlalu
sering berdiskusi "jika menjadi seorang pemimpin itu ibarat menjadi
nakhoda sebuah kapal", bukan laut tenang yang akan diarungi melainkan
samudera lepas nan ganas, yang kita tak penah tahu akan bagaimana semua
terjalani.
Wahai pemimpin kami yang dirindukan, kami percaya padamu,
jadi berhentilah bersikap mengecewakan. Kami tidak meninggalkanmu.
Jika kini kau telah terpilih, dan menjadi pusat segala pusat
maka berhati-hatilah.
Matahari pun menjaga kecepatan dan tetap dalam lintasannya,
untuk keseimbangan alam dunia, siang dan malam.
Maka, kau pun begitu wahai pemimpin yang dirindukan,
seHARUSnya kau tetap dalam lintasan. Karena orang mencari, orang melihat, orang
mendengar semua tenatngmu, karena kau orang yang amat penting dan penentu kapal
akan dibawa kemana.
Jika seorang nakhoda kapal "mabuk", akankah
penumpangnya tenang?
Tidak.
Mereka tidak tenang, dan mungkin saja mreka akan membuangmu
ke samudera lepas dengan penuh caci maki.
Jadi, pantaskan dirimu wahai pemimpin yang dirindukan.
Kehidupan pribadimu pun akan menjadi eksploitasi, dan itu memang pantas dan
wajar "rakyat menginginkan pemimpin ideal yang patuh pada aturan dan
tatanan, baik tatanan sosial, agama, hukum negara, dan bahkan MORAL."
Wahai pemimpin yang dirindukan, jika dirimu masih saja
berkutat dengan perasaan-perasaan sendiri yang mengacaukan, berhentila
berrteriak "berikan kepercayaanmu padaku!", karena ombak akan
menelannya, dan ikan teri pun tak akan mau mempercayaimu.
Wahai pemimin yang dirindukan, jangan tutup mata, jangan
tutup telinga, jangan matikan hatimu dari selentingan-selentingan, karena ia
bak obat yang pahit tapi menyembuhkan. Marilah bersama menjadi pembelajar.
"Karena kami masih akan percaya padamu, berhati-hatilah
berkata, berbuat, dan bertekad, krena "sosok"mu menjadi citra
bangsa"
wahai pemimpin yang dirindukan, berusahalah untuk keras pada
diri sendiri. Tenanglah, karena cinta akan datang tepat pada waktunya, ia tak
akan pergi jika sejati.
Bersabarlah, karena cinta yang hakiki adalah perjuangan,
jangan sampai kamu merindui cinta, biar cinta yang merinduimu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar