Senin, 30 Desember 2013

Mentari di Ufuk Eropa

Oleh: Hujan November
“Tuhan izinkan aku menikmati mentari pagi di Negri Eropa.
Dan menikmati langit-langit cerah bersama jutaan burung yang melintas disana, bukan lagi burung kertas yang ku gantungkan di langit-langit kamarku, melainkan sebuah suguhan  nyata yang Tuhan ciptakan nyawa di dalamnya”.
            Tuhan, kata orang langit Eropa begitu indah, benarkah itu? Jika boleh, aku ingin melihat keindahan itu, sekali saja! Aku tak pernah tau kapan Kau mengakhiri malamku, dan sebelum Kau tentukan hari itu, izinkanlah Tuhan, izinkanlah ..
Aku tak pernah tahu seperti apa mereka mengenangku nanti, seperti apa yah Tuhan? Apakah aku akan di kenang sebagai orang yang baik? Atau ..
Aku hanya akan di kenang sebagai gadis bodoh si tukang tidur yang selalu bermimpi menikmati mentari di negri yang jauh itu.
Tuhan, mungkin aku hanyalah Tuhan untuk setiap dongeng yang ku buat di atas lembaran ceritaku, aku hanyalah Tuhan untuk setiap burung kertas itu, yang tampak bernyawa ketika aku memainkanya dengan jari-jari yang lemah ini yang seolah terbang meski hanya di dunia sepiku. Namun Kau adalah Tuhan ku dan se- isi Mesta ini. Dengan kekuatan lemahku aku hanya mampu menciptakan kertas itu “seolah” bernyawa, namun Kau dengan Kekuatan Maha Dahsyatmu kau izinkan Nabi Yunus bertahan di perut ikan yang bau busuk. Dengan izinmu pula, kau mampu membuat Nabi Musa membelah laut merah dengan tongkatnya sendiri. Dan aku memohon izinmu Tuhan diantara sisa pagi yang ku punya, izinkan aku menikmati mentari hangat di negri itu, negri yang ada dalam dongengku. Meski akhirnya sebelum aku sampai ke sana, aku sudah kehabisan malam untuk menikmati pagi.

Meskipun begitu, setidaknya ketika petang telah tiba dan aku telah berpisah dengan jasadku, akhirnya aku menghempaskan semuanya. Tuhan yang Maha Baik telah mencabut semua rasa sakitku di suatu petang menjelang malam, hingga akhirnya ku lihat mentari pagi yang selalu ku bayangkan bersama dengan ribuan burung yang melintasi langit Eropa, di saat itulaah rohku harus kembali menuju sang pemilik semuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar