Senin, 30 Desember 2013

Cerita Aksara (Shesha Akina-Santi Maulani) Untuk adikku yang kelak akan menorehkan cinta dan sejarahnya di Aksara UPI Tasikmalaya

Carita akan memberikan kesan berbeda jika hanya diceritakan, tapi akan bermakna jika dirasakan. Cerita hanya sepenggal kisah lalu dengan sejuta kata yang tak akan ada habisnya untuk dituliskan dalam selembarkertas putih.
Masa yang telah lalu adalah kenangan yang tak akan pernah sama, walau di tempat, hari dan detik bahkan dengan seseorang yang sama. “Kenapa berbeda? Bukankah semuanya sama?” karena saat itu tak ada yang dibuat-buat, sangat alami dengan suasana yang sangat kita nikmati.
Senyum tulus yang terpancar saat pagi menjelang. Walau dengan kegelisan yang menerjang, karena harus membagi waktu dengan berbagai kegiatan tak mengalahkan niat untuk seseorang yang telah menunggu. Atau bukan seseorang, karena mereka adalah kertas dan pena yang telah siap memberikan sejuta kata yang akan mereka rangkai untuk mengisi berbagai majalah, surat kabar, buku-buku yang akan mereka terbitkan bahkan hanya sekedar mengisi blog-blog mereka sendiri.
Senyum itu semakin siang telah berkembang menjadi tawa lepas dengan kekonyolan sederhana yang tak direncanakan, dan terganti dengan rasa percaya diri tinggi untuk membacakan puisi sepanjang jalan.
Ketika itu mereka seolah tak peduli dengan tatapan aneh, bahkan sinis dari orang-orang disekeliling yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Ah untuk sebuah tanda tangan, mereka rela melepas rasa malu. Mencari apresiator yang mau mendengarkan satu bait puisi. Bahkan rela dicaci karena apresiator yang tak mau peduli. Terlihat kekecewaan diwajahnya, tapi hal kecil itu tak menunrunkan semangat mereka. Mereka dengan bangga memperlihatkan beberapa tanda tangan dibalik kertas berwarna merah muda. Menunjukan usaha keras hanya  untuk satu tanda tangan. 
Kaki yang lelah melewati setapak demi setapak jalan besar, kian tak terasa. Langit putih menunjukkan bahwa ia menjadi atap di pos terakhir. Udara sejuk di persawahan memberikan kesegaran dalam setiap tarikan nafas, mata yang seolah dipaksa terpejam, pikiran yang dibuat melayang agar bisa menikmati keindahan Tuhan, karena terlupakan oleh berbagai aktivitas.
Hingga kita juga lupa dengan sosok yang telah lama menunggu di tempat yang sering disebut rumah. Ketika mengingatnya tak akan ada alasan untuk tak membuat pipi ini basah, rasa rindu yang membelenggu, memaksa tetes air semakin deras dalam setiap kalimat yang memberikan kesan mendalam. Untaian kata yang tak henti-hentinya disampaikan bersama dengan gemercik air sungai menghilangkan beban yang pecah dengan satu teriakkan.

Jika ditanya alasan kenapa mereka menangis, tak akanada satu jawaban pun untuk menggambarkannya. “Kalau udah diingatkan sama orang tua, gak bisa tahan buat nangis.” Kata salah seorang berbaju pink yang memegang kedua pipi cubynya.
Sambil terus berpegang tangan ia tak hentinya menceritakan wanita terhebat yang telah melahirkannya hingga ia akan membanggakan Ibunya dengan tulisan-tulisan yang mengalir dengan cepat dari tangan mungilnya.
Perjalanan panjang tak terasa melelahkan, kerongkongan yang terasa kering, rasa lapar yang semakin mendera, seolah terbayar dengan kegembiraan yang tak ada habisnya hingga matahari seolah tepat berada di atas kepala.
Dengan langkah malu-malu untuk mengambil tas, terlihat nasi putih dengan lauk-pauk yang telah disedikan. Bukan disajikan dengan piring dan gelas mewah, tapi daun pisang yang hanya sebagai alas. Ada keraguan untuk memakannya, karena setiap orang bebas mengambil nasi. Suapan pertama, agaknya tampak ragu. Suapan kedua terlihat keterpaksaan karena perut yang mendemo meminta jatah makan. Suapan-suapan berikutnya keraguan itu hilang, keterpaksaan itu pudar oleh semua kesederhanaan yang jauh lebih menyenangkan dari sekedar piring dan gelas mewah. Bukan juga karena tempat dimana kita makan-makanan itu tapi karena kebersamaan yang tak akan tergantikan.






“Habis ini ngapain lagi ya kak?” pertanyaan yang setidaknya memberikan dua arti dari jawaban yang disampaikan. Pertama karena mereka sudah lelah mengikuti serangkaian kegiatan dari pagi atau karena rasa penasaran dengan kegiatan yang membuat mereka deg-degan. Entahlah mereka mempunyai alasan sendiri-sendiri.
SUDAH TERLANJUR
Dara Zhafirah
(Pelangi Senja)

Sudah terlanjur
Bila engkau cegah aku jatuh hati
Padahal embun telah lama terkikis sang fajar
Yang terabaikan waktu
Aku terlalu sibuk mempertanyakan kehadiranmu

Sudah terlanjur
S   Senyum sederhanamu telah lama buatku takluk!
Rasa kasmaran telah mengalahkanku,
Dan aku tak berdaya dibuatnya.
Beberapa menit penasaran berganti menjadi ketidaksabaran untuk menceritakan alasan-alasan kenapa mereka membuat karya dengan berbagai judul yang beragam. Kata demi kata terangkai indah menjadi bait puisi.














Pemilihan kata sederhana tetapi menyimpan berjuta makna, pasti akan membuat siapa saja yang membacanya larut dalam kenangan yang memberikan kesan tersendiri.
Bukan hanya aluanan kata yang terangkai indah menjadi bait-bait puisi, tapi juga kalimat yangsengaja dibuat untuk menggambarkan imajinasi yang dimiliki. Unutk menjelaskan rasa yang sedang mereka alami.
























Sebuah rasa yang akhirnya memberikan mereka impian untuk mulai menulisakannya dalam kertas yang merangkai sejuta kata tiada henti.
Ide bermunculan dan terus berkembang tapi tangan yang mempunyai batas kemampuan untuk menyeimbangkan pikiran dan gerakan, adalah hal kecil untuk memberikan mereka kesempatan melepas rasa lelah.
Rasa lelah akan hilang jika kita melihat atau mendengar hal-hal yang kita anggap menyenangkan. Tapi bagaimana jika mata untuk melihat hal menyengakan itu, ditutup?  Dan hanya terdengar suara-suara aneh? Bukan kelelahan itu yang hilang tapi kebingungan melanda. Suatu ketika seolah tak ada gerakan, hening. Tapi tak lama terdengar jeritan, terdengar seseorang yang membacakan puisi tentang ayah dan ibu. “Apa sebenarnya yang terjadi disekelilingku?” mungkin hal itu berada dalam benak mereka. kemudian pukulan kaleng yang semaikn mendekat, terdengar begitu jelas ditelinga. Sempat tersungging senyum itu dari bibirnya, ketika terdengar music dangdut. Tak ada perintah, tapi tangan, kaki dan badan bergerak, bergoyang mengikuti irama music.
Walau dengan mata tertutup, tapi tangan itu terus berpegangan, berdansa mengikuti alunan music yang berganti. Menghilangkan rasa lelah yang semakin menjadi, dengan gerakan-gerakan yang mengalir tanpa disadari. Music tiba-tiba berhenti, genggaman tangan itu dilepaskan. Ada tangan lain yang menuntun mereka satu persatu. Dengan mata yang masih ditutup, mereka dipaksa membuka mulut. Keraguan tampak jelas dari cara mereka menolak makanan dan minuman yang diberikan. Tapi akhirnya mereka malah meminta lagi dan lagi makanan dan minuman itu.
tak lama tutup mata itu dibuka, dengan mata yang masih remang-remang mereka memasuki ruang kecil yang ditutup dengan kain hitam. Di sana telah menunggu seseorang yang akan menjadi saksi nama pena yang akan mereka gunakan.
satu persatu mereka menuliskan nama pena dalam satu lembar kertas putih. Nama yang akan menjadi kebanggaan, nama yang akan membesarkan mereka dalam dunia penulisan.
Langit sore telah dipenuhi awan hitam, matahari tak lagi menunjukkan cahayanya. Adzan maghrib telah berkumandang tapi acaramasih belum berakhir.
Hanya ada satu cahaya yang menerangi gelapnya salah satu sudut itu, api kecil yang dikelilingi oleh berbagai jenis pena dan kertas. Api yang akan menjadi saksi bisu bergabungnya pena-pena itu dalam satu keluarga Aksara. Serta janji suci yang mereka ucapkan, yang akan mereka pegang teguh sebagi bukti kecintaan pada Aksara.

19 Desember 2013

11:27 PM

1 komentar: