Carita akan memberikan kesan
berbeda jika hanya diceritakan, tapi akan bermakna jika dirasakan. Cerita hanya
sepenggal kisah lalu dengan sejuta kata yang tak akan ada habisnya untuk
dituliskan dalam selembarkertas putih.
Masa yang telah lalu adalah
kenangan yang tak akan pernah sama, walau di tempat, hari dan detik bahkan dengan
seseorang yang sama. “Kenapa berbeda? Bukankah semuanya sama?” karena saat itu
tak ada yang dibuat-buat, sangat alami dengan suasana yang sangat kita nikmati.
Senyum tulus yang terpancar saat
pagi menjelang. Walau dengan kegelisan yang menerjang, karena harus membagi
waktu dengan berbagai kegiatan tak mengalahkan niat untuk seseorang yang telah
menunggu. Atau bukan seseorang, karena mereka adalah kertas dan pena yang telah
siap memberikan sejuta kata yang akan mereka rangkai untuk mengisi berbagai
majalah, surat kabar, buku-buku yang akan mereka terbitkan bahkan hanya sekedar
mengisi blog-blog mereka sendiri.
Senyum itu semakin siang telah
berkembang menjadi tawa lepas dengan kekonyolan sederhana yang tak direncanakan,
dan terganti dengan rasa percaya diri tinggi untuk membacakan puisi sepanjang
jalan.
Ketika itu mereka seolah tak
peduli dengan tatapan aneh, bahkan sinis dari orang-orang disekeliling yang
memperhatikan gerak-gerik mereka. Ah untuk sebuah tanda tangan, mereka rela
melepas rasa malu. Mencari apresiator yang mau mendengarkan satu bait puisi. Bahkan
rela dicaci karena apresiator yang tak mau peduli. Terlihat kekecewaan
diwajahnya, tapi hal kecil itu tak menunrunkan semangat mereka. Mereka dengan
bangga memperlihatkan beberapa tanda tangan dibalik kertas berwarna merah muda.
Menunjukan usaha keras hanya untuk satu
tanda tangan.
Kaki yang lelah melewati setapak
demi setapak jalan besar, kian tak terasa. Langit putih menunjukkan bahwa ia menjadi
atap di pos terakhir. Udara sejuk di persawahan memberikan kesegaran dalam
setiap tarikan nafas, mata yang seolah dipaksa terpejam, pikiran yang dibuat
melayang agar bisa menikmati keindahan Tuhan, karena terlupakan oleh berbagai
aktivitas.
Hingga kita juga lupa dengan sosok
yang telah lama menunggu di tempat yang sering disebut rumah. Ketika
mengingatnya tak akan ada alasan untuk tak membuat pipi ini basah, rasa rindu
yang membelenggu, memaksa tetes air semakin deras dalam setiap kalimat yang
memberikan kesan mendalam. Untaian kata yang tak henti-hentinya disampaikan
bersama dengan gemercik air sungai menghilangkan beban yang pecah dengan satu
teriakkan.
Sambil terus berpegang tangan ia
tak hentinya menceritakan wanita terhebat yang telah melahirkannya hingga ia
akan membanggakan Ibunya dengan tulisan-tulisan yang mengalir dengan cepat dari
tangan mungilnya.
Perjalanan panjang tak terasa
melelahkan, kerongkongan yang terasa kering, rasa lapar yang semakin mendera,
seolah terbayar dengan kegembiraan yang tak ada habisnya hingga matahari seolah
tepat berada di atas kepala.
Dengan langkah malu-malu untuk
mengambil tas, terlihat nasi putih dengan lauk-pauk yang telah disedikan. Bukan
disajikan dengan piring dan gelas mewah, tapi daun pisang yang hanya sebagai
alas. Ada keraguan untuk memakannya, karena setiap orang bebas mengambil nasi.
Suapan pertama, agaknya tampak ragu. Suapan kedua terlihat keterpaksaan karena
perut yang mendemo meminta jatah makan. Suapan-suapan berikutnya keraguan itu
hilang, keterpaksaan itu pudar oleh semua kesederhanaan yang jauh lebih
menyenangkan dari sekedar piring dan gelas mewah. Bukan juga karena tempat
dimana kita makan-makanan itu tapi karena kebersamaan yang tak akan tergantikan.
“Habis ini ngapain lagi ya kak?”
pertanyaan yang setidaknya memberikan dua arti dari jawaban yang disampaikan.
Pertama karena mereka sudah lelah mengikuti serangkaian kegiatan dari pagi atau
karena rasa penasaran dengan kegiatan yang membuat mereka deg-degan. Entahlah
mereka mempunyai alasan sendiri-sendiri.
|
SUDAH TERLANJUR
Dara Zhafirah
(Pelangi Senja)
Sudah terlanjur
Bila engkau cegah aku jatuh hati
Padahal embun telah lama terkikis sang
fajar
Yang terabaikan waktu
Aku terlalu sibuk mempertanyakan
kehadiranmu
Sudah terlanjur
S Senyum
sederhanamu telah lama buatku takluk!
Rasa kasmaran telah mengalahkanku,
Dan aku tak berdaya dibuatnya.
|
Pemilihan kata sederhana tetapi
menyimpan berjuta makna, pasti akan membuat siapa saja yang membacanya larut
dalam kenangan yang memberikan kesan tersendiri.
Bukan hanya aluanan kata yang
terangkai indah menjadi bait-bait puisi, tapi juga kalimat yangsengaja dibuat
untuk menggambarkan imajinasi yang dimiliki. Unutk menjelaskan rasa yang sedang
mereka alami.
Sebuah rasa yang akhirnya
memberikan mereka impian untuk mulai menulisakannya dalam kertas yang merangkai
sejuta kata tiada henti.
Ide bermunculan dan terus
berkembang tapi tangan yang mempunyai batas kemampuan untuk menyeimbangkan
pikiran dan gerakan, adalah hal kecil untuk memberikan mereka kesempatan
melepas rasa lelah.
Rasa lelah akan hilang jika kita
melihat atau mendengar hal-hal yang kita anggap menyenangkan. Tapi bagaimana
jika mata untuk melihat hal menyengakan itu, ditutup? Dan hanya terdengar suara-suara aneh? Bukan
kelelahan itu yang hilang tapi kebingungan melanda. Suatu ketika seolah tak ada
gerakan, hening. Tapi tak lama terdengar jeritan, terdengar seseorang yang
membacakan puisi tentang ayah dan ibu. “Apa sebenarnya yang terjadi
disekelilingku?” mungkin hal itu berada dalam benak mereka. kemudian pukulan
kaleng yang semaikn mendekat, terdengar begitu jelas ditelinga. Sempat
tersungging senyum itu dari bibirnya, ketika terdengar music dangdut. Tak ada
perintah, tapi tangan, kaki dan badan bergerak, bergoyang mengikuti irama
music.
Walau dengan mata tertutup, tapi
tangan itu terus berpegangan, berdansa mengikuti alunan music yang berganti.
Menghilangkan rasa lelah yang semakin menjadi, dengan gerakan-gerakan yang
mengalir tanpa disadari. Music tiba-tiba berhenti, genggaman tangan itu
dilepaskan. Ada tangan lain yang menuntun mereka satu persatu. Dengan mata yang
masih ditutup, mereka dipaksa membuka mulut. Keraguan tampak jelas dari cara
mereka menolak makanan dan minuman yang diberikan. Tapi akhirnya mereka malah
meminta lagi dan lagi makanan dan minuman itu.
Langit sore telah dipenuhi awan
hitam, matahari tak lagi menunjukkan cahayanya. Adzan maghrib telah
berkumandang tapi acaramasih belum berakhir.
Hanya ada satu cahaya yang
menerangi gelapnya salah satu sudut itu, api kecil yang dikelilingi oleh
berbagai jenis pena dan kertas. Api yang akan menjadi saksi bisu bergabungnya
pena-pena itu dalam satu keluarga Aksara. Serta janji suci yang mereka ucapkan,
yang akan mereka pegang teguh sebagi bukti kecintaan pada Aksara.
19
Desember 2013
11:27
PM
Mana foto2 nya?
BalasHapus