Senin, 30 Desember 2013

Aku dan Hujan Tadi Malam

Ada sesuatu yang terasa aneh saat itu, entah apa. Tapi yang jelas, itu membuat hujan tadi malam semakin deras. Membasahi setiap insan yang tidak bernaung di bawah apapun. Menutupi kesedihannya, dan membuat mereka bersalah dalam kebahagiaannya.
Hujan tadi malam membasahi raga ini. Raga yang mulai lelah dengan segala aktifitasnya. Raga yang mulai bosan dengan semua kepura-puraannya dibalik tabir kenistaan yang fana.
Aku dan hujan tadi malam sangat dekat dan akrab bercengkrama. Bahkan, lebih akrab dari kucing yang saling suka dan lebih dekat dari batu dan tanah yang basah.
Aku dan hujan tadi malam mulai berbagi cerita, seperti seorang anak kecil yang merengek pada Ibunya. Memintanya untuk menjadi cahaya yang membuat tubuhnya terasa hangat dalam hujan tadi malam.
Aku dan hujan tadi malam menangis bersama, mengingat kesedihan yang menyapa hati ini. Sepertinya hujan mengerti dan sangat paham. Dia menurunkan tetesan demi tetesan airnya untuk menemani air mata yang kesepian di tengah jalan.
Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, tapi entah dari mana aku harus memulainya.
Menapaki setiap jejak yang telah terukir bersama pena. Menyusuri setiap alur kehidupan yang tidak lagi aku harapkan.
Sepertinya diri ini mulai bosan!
Maaf hujan, aku tidak bermaksud membuatmu sedih malam ini. Hanya saja, hati ini sedang merindukanmu.
Merindukan Pemilik dan Penciptamu,, lebih dari kerinduan seorang kekasih pada pujaan hatinya.
Saat hati ini terasa gundah, Dialah yang membuatnya tak mampu untuk mengalah oleh masalah..
saat hati ini merasakan benci yang sangat dalam, Dialah yang membuat ikhlas tertanam..
saat hati ini merasa sendiri, Dialah yang selalu hadir menemani..
dan saat hati ini tak mampu lagi memaafkan, Dialah yang akan membuatku memaafkan walau terkadang harus dipaksakan.
Aku lebih beruntung dari mereka yang setiap hari menjadi sahabatmu, hujan. Menjadi teman setiamu dalam segala aktifitasnya. Bahkan menjadi seperti sungai yang akan selalu menghampiri muaranya, walaupun dia tak mau.
Maaf langit, aku tidak bermaksud membuatmu cemburu karena hujan yang menemani kesedihanku malam ini. Hanya saja saat itu kau sedang tertidur bersama gelapnya malam tanpa rembulan.
Melalui perantaramu, hujan turun bertanda kasih sayangNya pada seluruh makhlukNya. Bukan hanya untukku yang sedang bersedih malam ini, tapi untuk segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi.
Terima kasih Pemilik Langit dan Hujan,, atas langit yang telah Kau ciptakan dengan 'arsitektur' yang luar biasa, dan hujan yang Kau turunkan malam ini bersama limpahan kasih sayangMu pada tumbuhan yang kekeringan, hewan yang kehausan, manusia dalam kesedihan, dan pada segala sesuatu yang telah Kau ciptakan.
Semoga hati ini tetap di jalan cintaMu.. Amin

Buah karya Fida Amatillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar